Tuhan

Tuhan
(agama, pikiran dan pelukan)
+
"Aku kehilangan esensi. Aku telah mencoba beberapa ciuman tapi tak pernah benar-benar menyelesaikannya sebab hambar. Tapi denganmu aku seperti menemukan sesuatu yang hilang. Kehangatan, kebebasan" katamu.
+
Dan kau pun melepas jilbabmu. Kau 22 tahun tapi bagimu agama dan ritual tak lebih dari sekedar hafalan dan gerakan. Senam. Kau juga mulai mempertanyakan tentang tuhan. Benarkah tuhan adalah sosok egois yang berusaha membelenggu kebebasanmu. Atau tuhan adalah kedangkalan yang selalu haus pujian. Benarkah secawan anggur, wiski, vodka, dan segelas guinness adalah neraka. Atau bagaimana mungkin kita memerlukan legalisasi secarik kertas hanya untuk bisa menari bersama dalam tarian purba bernama sex?. 3 tahun kau berkelana diantara buku-buku tua dan mencoba mendeskripsikannya hingga kau pun menemukanku. Tanpa sengaja.
+
"Tidak ada tuhan, yang ada AKU" jawabku.
+
"Agama bahkan tuhan lahir dari pikiran, peradaban. Adalah jawaban semu dari setiap keterbatasan dan ketidaktahuan kita. Kegagalan kita dalam mengenali dan menerima setiap kenyataan. Realitas. Lupakan segala omong kosong tentang pahala dan dosa, surga neraka. Melangkahlah dengan hatimu meski dengan diam-diam. Hingga pada saatnya kau akan mengerti bahwa aku adalah kau" lanjutku.
+
"Virtual hugs" sahutmu
+
Dan kita pun berpelukan meski dari kejauhan melampaui jauhnya jarak dan lamanya waktu. Bersama alunan "Sampai mati" - Nano band, "Mirage" - Kitaro menyimpan kenangan diantara bintang-bintang. Kusadari pada saatnya bebek akan bersama bebek, pengkhianat akan bersama pengkhianat, sementara para pecinta akan mati dalam kesendiriannya sendiri. Abadi.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian

POPULER

Konsekuensi

Peradaban

ANDROID

Install RiaCaya pada Android
Download

BUKU


Untuk pemesanan di sini


Untuk pemesanan di sini

RCPLAYER

Simple Musik Radio TV...
RCsetup (windows)
RCplayer (Android)

DONASI



BRI
No. rek: 6906-01-002323-53-9
a/n: Pujiyanti

TRANSLATE