Peradaban
Peradaban
(Kebodohan, kemajuan dan uang)
+
Udara cukup panas. Aku melihatmu mengeja masa depan dibawah pelukan terik matahari. Bahwa kebodohan mesti dihapuskan setidaknya atas nama kemajuan. Peradaban. Bagimu mimpi indah adalah melihat orang-orang bangun dari keterbelakangan, sepenuhnya. Seperti Tim Berners-Lee penemu World Wide Web (WWW) atau Vint Cerf dan Robert Kahn bapak internet, meski hanya satu kau ingin seseorang mewarisi pikiranmu. Maju.
+
"Aku tetap akan pergi ke lembah kebodohan dan mencerdaskannya" ucapmu tak bergeming.
+
Benar bahwa sejak Homo Sapiens mampu mengkomparasi perbedaan dan berhitung peradaban pun dimulai. Perlahan manusia membangun system berbasis keegoisan. Uang. Dan satu persatu jalan-jalan dihubungkan, kota-kota didirikan. Jarak dan waktu mulai dipangkas dengan lahirnya internet, kereta super cepat dan pesawat terbang. Angkasa pun perlahan mulai diobservasi dan ditaklukkan. Hanya saja, aku melihat peradaban tidak sepenuhnya berjalan di jalan yang lurus. Manusia perlahan mulai menghabisi beberapa spesies flora dan fauna. Hutan-hutan dibabat, asap-asap mesin membumbung tinggi menjebol lapisan ozon dan suhu pun memanas. Sampah menggunung di mana-mana, sungai-sungai keruh menghitam. Kumuh. Isi perut bumi dieksploitasi besar-besaran dan bumi pun mulai bergetar. Manusia bertarung membabi-buta untuk saling menguasai hingga tanpa sadar menciptakan strata dan kelas sosial. Terpisah.
+
"Beberapa hal perlu dibiarkan natural dan bodoh setidaknya demi memperlambat manusia dari kepunahan" jawabku.
+
Awan masih mengantung di tempat yang sama, sementara roda berputar pada aspal yang berliku. Alunan "Viva Forever"- Spice Girl mengalun diantara udara yang menerobos kaca jendela. Kusadari bahwa selfish gen sebagai alasan manusia untuk mempertahankan eksistensinya sesunguhnya sedang berjalan membunuh dirinya sendiri. Tanpa sadar. Kecuali kita legowo untuk bersama-sama me-rekontruksi system. Peradaban.
+
Jumapolo Karanganyar, June 15 2021
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian


