Bebas (Antara Jogja, Sleman dan Bantul) + Hujan. Aku tidak tahu apakah tetes-tetes air yang menempel pada kaca jendela ini adalah musim terakhir dalam barisan ingatanku. Bersamamu. Gedung-gedung berdiri membisu dalam dinginnya kabut sementara seperti aliran sungai takdir yang tidak jelas roda terus berputar dan melaju pada hitamnya aspal. Bagiku tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban apalagi kepastian sebab beberapa hal lebih indah justru ketika menyisakan sedikit tanya. Pun, aku tidak akan memaksamu mencandra masa depan ketika kau tiba-tiba terdiam dan menyerah dalam pelukanku. Beku. Sebab cinta hanya akan datang untuk memastikan eksistensinya sendiri. Tidak lebih. + "Sepertimu, cintaku telah terpasung di masa lalu" katamu. + "Aku hanya ingin menikmati hujan, senja, hembusan angin dan deburan ombak yang menghantam hati kita. Menghabiskan satu-satunya hal yang pernah kita miliki bersama, waktu" lanjutmu. + Dan akupun perlahan melumat bibirmu. Menghabiskan sisa-s...
Kata - kata (Cinta, bahasa dan kesendirian) + Namamu Melly. Tahun yang sama dengan kelahiran anak pertamaku, 21 tahun. Aku tidak tahu seberapa dalam perih tersisa ketika ekspektasi atas hubungan itu hancur. Sebab kadang air mata bahkan gagal menterjemahkan apa yang berkecamuk di dalam. Kau perempuan realistis dan ambisius atas duniamu sendiri. Serius dalam mencandra mimpi - mimpi atas masa depan dan kemapanan. Kaku. + "Bikinin puisi om" pintamu + "Seperti katamu bahwa cinta bukanlah sekedar kata - kata, dan aku bahkan tidak mampu merangkai huruf- huruf sebagai wujud kedalamanku sendiri. Ketahuilah kata - kata bukanlah apa yang dideskripsikannya. Sejak dulu. Meski betapa seringnya kita berusaha mati - matian mengkonversi luka, amarah dan penderitaan ke dalam aksara, kata dan kalimat pada akhirnya semua itu bukanlah realitas yang sesungguhnya. Benar bahwa sejak manusia mampu menciptakan bahasa verbal mereka seakan merasa saling terhubung satu dengan lainnya, tapi sejak itu...
Peradaban (Kebodohan, kemajuan dan uang) + Udara cukup panas. Aku melihatmu mengeja masa depan dibawah pelukan terik matahari. Bahwa kebodohan mesti dihapuskan setidaknya atas nama kemajuan. Peradaban. Bagimu mimpi indah adalah melihat orang-orang bangun dari keterbelakangan, sepenuhnya. Seperti Tim Berners-Lee penemu World Wide Web (WWW) atau Vint Cerf dan Robert Kahn bapak internet, meski hanya satu kau ingin seseorang mewarisi pikiranmu. Maju. + "Aku tetap akan pergi ke lembah kebodohan dan mencerdaskannya" ucapmu tak bergeming. + Benar bahwa sejak Homo Sapiens mampu mengkomparasi perbedaan dan berhitung peradaban pun dimulai. Perlahan manusia membangun system berbasis keegoisan. Uang. Dan satu persatu jalan-jalan dihubungkan, kota-kota didirikan. Jarak dan waktu mulai dipangkas dengan lahirnya internet, kereta super cepat dan pesawat terbang. Angkasa pun perlahan mulai diobservasi dan ditaklukkan. Hanya saja, aku melihat peradaban tidak sepenuhnya berjalan di jalan yang ...