Bebas
Bebas
(Antara Jogja, Sleman dan Bantul)
+
Hujan. Aku tidak tahu apakah tetes-tetes air yang menempel pada kaca jendela ini adalah musim terakhir dalam barisan ingatanku. Bersamamu. Gedung-gedung berdiri membisu dalam dinginnya kabut sementara seperti aliran sungai takdir yang tidak jelas roda terus berputar dan melaju pada hitamnya aspal. Bagiku tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban apalagi kepastian sebab beberapa hal lebih indah justru ketika menyisakan sedikit tanya. Pun, aku tidak akan memaksamu mencandra masa depan ketika kau tiba-tiba terdiam dan menyerah dalam pelukanku. Beku. Sebab cinta hanya akan datang untuk memastikan eksistensinya sendiri. Tidak lebih.
+
"Sepertimu, cintaku telah terpasung di masa lalu" katamu.
+
"Aku hanya ingin menikmati hujan, senja, hembusan angin dan deburan ombak yang menghantam hati kita. Menghabiskan satu-satunya hal yang pernah kita miliki bersama, waktu" lanjutmu.
+
Dan akupun perlahan melumat bibirmu. Menghabiskan sisa-sisa ketakutanku pada apa yang pernah kusebut dosa dan neraka. Membebaskan diriku dari belenggu emas bernama kesetiaan yang bertahun-tahun kujeratkan di leherku sendiri. Sepenuhnya.
+
"Aku akan belajar menyisakan ruang diantara kita, memaknai sepi" jawabku.
+
Hujan masih mengguyur jalan-jalan yang kulalui. Sementara alunan "Ruang sendiri" - Tulus Band mengalun diantara udara yang dingin. Di bawah cahaya lampu merah yang bisu kusadari bahwa kebebasan sejati hanya mungkin ketika kita telah berhenti menginginkanya. Menjalani apa yang mesti dijalani.
+
Yogyakarta. Mei 20 2021
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


