covid19

Covid19
(Kenangan, kesedihan dan sisa-sisa waktu)
+
Aku kembali di sini. Laut. Tempat dimana kita pernah memahat kenangan dan bersama-sana tertawa dibawah naungan senja. Kenangan yang meski sering terlambat kita sadari namun selalu mengajarkan arti kehilangan. Kepahitan dan pengkhianatan. Langit mendung dan senja pun menghilang di ujung cakrawala. Gelegar ombak pada batu-batu karang menyambutku. Hamparan pasir putih menunggu jejak-jejak kisah manusia yang mengunjunginya. Sementara sepasang pengunjung tampak menata rambutnya yang setengah merah sebelum sedetik kemudian mengambil gambar dan menyimpannya sebagai kenangan. Foto. Beberapa perahu nelayan bergoyang tertambat di dermaga. Sepi. Seperti negriku yang beberapa pekan bergelut dengan ke-nanar-an-nya sendiri dalam menghadapi virus kematian. Corona.
+
Sebuah virus saluran pernafasan yang dinamai covid19 dan telah memaksa peradapan bertekuk lutut. Lockdown. Para bangsawan mengunci diri dalam pagar-pagar kemewahan istana. Pasar-pasar dingin berselimut sepi, Wihara dan pura senyap mencekam Sementara lonceng-lonceng gereja dan menara-menara masjid terbujur kaku ketakutan. Diam. Dunia seperti berhadapan dengan evolusinya sendiri ketika wajahnya yang semakin keriput tertindas keserakahan. Mungkin bumi sedang mengkoreksi diri, benarkah baginya kepunahan homo sapiens bernama manusia adalah kedamaian.
+
"Simpan sendiri sedihmu" katamu diantara ombak yang tak pernah jemu menghadapi karang.
+
"Kehilangan bukanlah kesedihan. Ia hanyalah siklus abadi yang lahir dari keberadaan. Tidak ada yang istimewa darinya" jawabku tertatih menterjemahkan senyummu.
+
Langit masih mendung. Aku memainkan buih yang datang dan pergi laksana mimpi. Menyadari bahwa sisa-sisa kesedihan itu adalah melihat kebodohan dan iman yang selalu merenggut orang-orang dari kebahagiaan. Sementara di laman-laman facebook, di beranda-betanda twitter. di server-server berita digital masih terdengar nada-nada ketakutan. Negri ini menatap nanar pada lubang-lubang kematian. Para penguasa dan pelacur kekuasaan sibuk baku hantam memanfaatkan keadaan. Kemanusiaan pun perlahan menipis dan nyaris hilang. Untuk sekian kalinya ombak bergulung dan memberitahuku bahwa seberapapun kokoh kebodohan pada akhirnya ia akan menyerah pada luka dan kesedihannya sendiri. Kegagalan dalam memahami cinta bahkan pada siklus waktu yang tersisa.
+
Sadeng beach 2 April 2020
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.

POPULER

Tuhan

Konsekuensi

Peradaban

ANDROID

Install RiaCaya pada Android
Download

BUKU


Untuk pemesanan di sini


Untuk pemesanan di sini

RCPLAYER

Simple Musik Radio TV...
RCsetup (windows)
RCplayer (Android)

DONASI



BRI
No. rek: 6906-01-002323-53-9
a/n: Pujiyanti

TRANSLATE