draft 3
"Kita menikah?" Tanyamu.
+
Kutelusuri wajahmu yang diam membisu. Bibir setengah basah seakan menyeretku dalam dunia abstrak. Seperti rasa aneh yang tiba-tiba gagal kudefinisikan di hadapanmu. Matamu bening memperlihatkan diriku mengecil di dalamnya. Kau tertunduk. Aku segera sadar untuk secepat mungkin memberimu sedikit jarak dan membebaskanmu memilih perasaan sendiri. Semenit berlalu dan diam-diam aku membiarkan nafasmu menghipnotisku. Melemparkanku dalam jurang mimpi-mimpi tanpa kau ketahui. Kau memang terlambat mendatangi hidupku tapi kau adalah gambaran keindahan dari keberadaan. Sempurna. Di masa depan mampukah aku menjalani hari-hari saat kau pergi menyisakan sunyi. Bukankah kesunyian adalah satu-satunya musuh tuhan hingga semesta tercipta sebagai bingkai permainan?.
+

