draft 4
"Kau masih ingat?" Tanyamu.
+
Di masa lalu mungkin kau pernah menjadi warna gelap di perkebunan hati ketika kenaifan membelengguku. Tapi kau adalah pagi dan gairah pertama yang membuat hujan indah berpelangi. Warna yang diam-diam kurindui meski pada akhirnya cahaya itu membunuhku dan berkali-kali aku pun mati. Bukan saja oleh kebodohan dan ketidakmengertianmu tapi juga oleh senyummu. Senyum yang kini tampak jauh sebab dunia memisahkan kita. Kau mengejar mimpimu sementara aku lebih memilih menyusuri jalan-jalan tua. Berkelana diatas jalanan yang berdebu memahami pengertianku sendiri. 20 tahun berlalu dan kita pun bertemu. Kau masih sama sementara aku terlanjur bersimpuh dibawah pelukan senja. Memandang wajah sendiri di ujung cakrawala.
+

