Rindu
Rindu.
(Antara huruf dan jalan-jalan sunyi)
+
Kembali. Aku melihat wajahmu dari dunia yang aneh. Benar bahwa mungkin aku tak mencintaimu layaknya perempuan. Aku bahkan tak pernah berharap menyeberangi lautan gairah bersamamu. Atau mengintimidasi malam dengan desahan yang membara. Tapi rasa ini pernah seakan nyata ketika kuraba jatungku sendiri. Kunikmati kehilangan, rindu dan 1001 kegundahan yang kuilusikan sendiri. Aku juga tidak melakukan semua hal yang kau sebut konyol itu untuk diriku. Aku hanya mesti melakukannya tanpa tahu sepenuhnya darimana keharusan itu datang. Bahwa aku harus dengan sadar menyakitimu. Meluluhlantakan ekspektasi indah dan eksklusif yang pernah kau bangun megah dalam tahta pikiranmu. Tentangku.
+
Ya. aku hanya ingin memberitahumu bahwa rasa sakit dan derita selalu lahir dari ekspektasi. Harapan. Maka lakukan semua hal sebagai hidupmu. Peranmu. Hingga kau pun akan mampu menerima segala konsekuensi dengan sukarela. Sebab jika kau melakukan karena seseorang pada akhirnya hanya akan menuai kekecewaan. Memanen derita.
+
"Aku rindu* tulisku.
+
Kata yang telah lama nyaris kulupakan aksaranya ketika aku kembali menyusuri belantara tebing dan lembah-lembah sunyi membunuh semua abjad dan tulisan. Pun kata-kata. Sebab disadari atau tidak pada saatnya semua buku dan kitab-kitab tua mesti kita tanggalkan. Sebab hanya dengan begitu kita bisa memahami realitas apa adanya. Tanpa air mata.
+
Sadeng beach, 19 April 2020
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.

