UnBlock
UnBlock
(impian tari purba)
+
"Aku membuka semua blokir" katamu
+
Dingin. Belasan siklus sudah kuarungi samudra ini sendiri. Kau tiba-tiba berhenti dan pergi setelah gagal menterjemahkan hubungan kita yang absurd. Rapuh. Sementara sisa-sisa badai yang kau tinggalkan membuatku jatuh dalam lubang kesunyian. Terlambat kukenali apalagi kumengerti. Kesendirian pun akhirnya membuatku melihat pagi tanpa gairah. Laksana perahu tua yang tenggelam, aku pun menyerah dalam pelukan teduh senja. Menjalani Waktu yang terus berputar bersama bintang-bintang menyimpan kenangan. Aku bahkan pernah menunggumu berhari-hari, pekan dan purnama sampai akhirnya kusadari bahwa seperti tujuan, penantianpun adalah rantai belenggu yang sangat panjang. Hingga pagi ini kau datang menghampiriku. Wajahmu pasi, senyummu menghilang bahkan suaramu seperti zombie menakutkan. Aku tidak tahu mesti tersenyum membangun kembali mimpi-mimpi yang telah lama mengering atau diam. Menyaksikan kedua kalinya puing-puing mimpi berserakan dibawah kaki keegoisan.
+
Tujuh tahun kita berjumpa dalam barisan kode-kode binary Facebook sebelum akhirnya kau katakan cinta. Aku terdiam. Bagaimana mungkin keterasingan bisa melahirkan cinta?. Sementara kita adalah dua makhluk asing yang nyaris tak pernah bertemu. Masih jelas dalam bingkai ingatanku bahwa menemuimu bukan saja butuh keberanian tapi juga kemunafikan. Kita mesti sama-sama berpura-pura tersenyum dalam kegugupan. Terbata-bata mempertahankannya. Aku bahkan menutup semua indera empiris agar tak terjebak oleh hipnotis bening matamu, oleh jerat ayu wajahmu yang oval, atau bertekuk lutut pada indah bibirmu yang sengaja kau tanpa lipstik. Tertatih-tatih aku menghindari semua itu meski akhirnya sia-sia. Tiga purnama berikutnya jiwaku telah luruh dalam dekapan rasamu. Dala riak gelombang cintamu. Dan kitapun bersama-sama memahat kenangan meski dari kejauhan. Mengisi waktu, mencipta dan memanen rindu dari cahaya semburat jingga. Senja yang meski pernah kita yakini sama pada akhirnya pun kusadari berbeda.
+
Aku bahkan masih ingat ketika dibawah gemuruh hujan parau suaramu menghentikan langkahku. Sedetik kemudian aku pun gagal menemukan diriku sendiri. Tebing-tebing, sungai-sungai, dan lembah-lembah sunyi yang kukunjungi selalu menjadi cermin senyummu. Aku membalikkan tubuh, memelukmu dan menghentikan seluruh langkahku. Tanpa sengaja kita pun sepakat menari dalam tarian purba hingga jiwa-jiwa kita menyatu meski dari sudut-sudut mimpi yang tak sepenuhnya terpahami. Sekali lagi memadu kasih dibawah senja yang semakin renta.
+
"Blokir za, aku tak mungkin bisa menahan rinduku" tulisku.
+
Dan lagu-lagu usang perlahan mengalun dari Laptop jadulku. Seperti mimpi, aku pun memanggil aksara, suara dan bayangan wajahmu dalam keheninganku sendiri. Sementara diluar sana Covid19 merajalela memporak-porandakan bangunan keangkuhan. Jalan-jalan sepi, masjid-masjid sunyi dan ramadhan pun mati. Kusadari, pada akhirnya kita akan selalu pulang sendiri kemudian lahir kembali untuk menghadapi matahari sampai kita berani membunuh mimpi.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian

