Waktu
Waktu
(Fakta, ilusi dan ketiadaan.)
+
"Namaku Ririn" katamu.
+
Aku tidak tahu kau laki-laki atau benar-benar wanita, bagiku kau hanyalah bagian diriku yang mengunjungiku melalui dunia empiris akhir ramadhan ini. Tidak lebih. Aku melihat diriku tercermin dalam dirimu belasan tahun silam. Ya. waktu yang sesungguhnya sangat absurd di dunia realitas. Kenyataan. Bagaimana mungkin kita mengukur ketiadaan waktu dengan mistar dan angka-angka ketika dia hanya eksis dalam pikiran. Tidak ada detik, jam, hari bahkan bulan dan tahun ketika semua adalah kesatuan. Tunggal. Aku tidak sedang bicara tentang tuhan, tapi keabadian. Ketiadaan yang tak pernah terjangkau oleh pikiran sebab pikiran adalah produk dari keberadaan. eksistensi semu yang lahir dari residu hasrat dan materi dalam belenggu waktu. Kau wanita cerdas yang tersesat dalam kepastianmu sendiri. Terlalu banyak buku dan bahasa kitab yang terekam dalam pikiran hingga keegoisan membuatnya mengkristal. Menjadi penjara dan membuatku tergoda untuk membuka kunci. Bukan untuk membebaskanmu tapi memberitahumu bahwa apapun yang pernah kita yakini hanyalah pembenaran atas ketidaktahuan kita sendiri.
+
"Apa itu fakta? tanyamu berapi-api.
+
"Apa yang nampak secara empiris/indera justru seringkali menipu. Lihatlah bahwa malam dan siang sesungguhnya tak pernah berjalan sendirian. Bahwa Dimana ada kematian disana pula akan lahir kuncup bunga-bunga kehidupan. Bahwa dimana ada duka disana ada suka. Bahwa dimana bersemayam kebencian disana selalu terselip wajah cinta. Sebab kesadaran sejati sesungguhnya tak pernah terjebak dalam dunia ilusi. Bahkan waktu tidak pernah bisa dibagi.Ia hanya diam membisu diujung kesunyian menyaksikan dirinya sendiri. Maka biarkan sebatang ciggaret menjadi saksi dan bukti bahwa rindu bagaimanapun kuatnya selalu kita ingkari setidaknya pernah menghampiri", jawabku.
+
Adzan subuh berkumandang, bintang dan bulan kembali menyimpan kenangan. Bersama alunan Gagong Rapper - It might be you kusadari bahwa pada akhirny tidak ada yang istimewa kecuali ingatan kita sendiri. Maka kematian dan kelahiran juga reinkarnasi adalah reborn nya ingatan menjadi kesadaran baru. Ketidakpastian hanyalah kepastian yang tidak/belum kita mengerti. Hingga apapun yang nampak sebagai kekacauan hanyalah refleksi kekacauan kita sendiri. Sementara keinginan untuk tinggi suci dan sempurna hanyalah keegoisan yang tersembunyi.
+
Sukoharjo, Akhir Ramadhan 2020.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.

