ilusi
Ilusi
(Agama, tuhan, dan Sepi)
+
Aku memasuki lobi, menyapa dua gadis yang memasang wajah penuh keramahan tapi terlihat menyembunyikan lelah di balik senyumnya yang setengah terpaksa. Ya Betapa seringnya kita menjalani hidup atas nama "indah" pilihan dengan merekayasa perasaan. Keterpaksaan.
+
"Agamamu apa?" tanyamu belum genap 24 jam kita berkenalan.
+
"Agama hanyalah produk pikiran yang lahir dari tradisi. Peradaban. Manusia-lah yang sesungguhnya menciptakan agama sebagai kebutuhan dan jawaban semu liarnya pertanyaan - pertanyaan. Angan-angan ideal atas harapan-harapan hingga tanpa sadar kita pun memasung kebebasan sendiri. Tertatih-tatih berusaha melaksanakannya. Atas nama kebaikan, kesucian, surga dan tuhan kita memaksakannya pada orang lain hingga melahirkan konflik yang panjang. Berabad-abad." jawabku.
+
"Tuhan?" lanjutmu.
+
"Apa yang kita pikir gelas bukanlah gelas itu sendiri. Pun apapun yang kita pikir tuhan bukan tuhan melainkan sekedar ilusi yang bersemayam dalam pikiran kita sendiri. Palsu." jawabku.
+
Malam pun semakin merangkak dalam alunan nada-nada usang It might be you - Stephen Bishop, Knife - Rockwell, Once in a life time - Gregorian, Viva forever - Spice girl. Perlahan sepi mulai menampakan wajahnya diantara dinding-dinding dan cahaya lampu yang redup. Sementara suara-suara kenalpot kendaraan di kejauhan seperti rintihan yang tersisih di sudut zaman. Kusadari bahwa suka duka kita bukanlah hal yang istimewa, sebab semua orang mengalaminya meski dengan cara yang berbeda. Bahkan apa yang kita sebut baik dan buruk hanyalah ilusi yang lahir dari pikiran. Nama halus dari apa yang kita sebut keuntungan dan kerugian. Keegoisan.
+
Hotel permata, Wonogiri 10 July 2020
+
RiaCaya

