Bunga
Bunga
(Rindu, gerimis dan senja)
+
Gerimis. Kali ini sepertinya hujan benar-benar salah musim. Matahari menghilang dibalik mendung yang satu persatu mulai cair. Jatuh. Seperti ketidakpastian rindu rumput-rumput membisu kecoklatan. Daun-daun tak bersuara di samping kaca jendela. Tanah basah mencipta aroma aneh yang menyembul dari dunia asing. Indah. Aku melangkah menyalakan sebatang cigarret, menatap kabut yang putih diantara hujan, angin perlahan menerobos tirai-tirai jendela dan menetap pada dinding-dinding hati. Sementara gemericik air menyatu dalam alunan Christopher Cross - "Sailing" membuat waktu seakan terhenti pada bayangannya sendiri. Sunyi.
+
"Bagaimana aku bisa hidup?" whatsappmu.
+
3 tahun kita bertemu. Kau tumbuh periang sebagai gadis yang dewasa melebihi umurmu sendiri. Bunga merekah diantara kritisnya pikiranmu. Tapi kau terlalu terburu-buru mempercayai dunia, terlalu cepat menyerahkan keindahan pada arogansi keegoisan. Layu.
+
"Untuk apa berharap pada seseorang yang bahkan gagal mengerti dimana dirinya mesti berdiri. Gagal mengerti tempatmu di hatinya. Lupakan. Jangan biarkan dia terlalu lama di hatimu lebih dari yang semestinya" jawabku.
+
"Layu bukan berarti mati. Teriaklah, marahlah, kutuklah dunia hingga ombak yang gemuruh di dadamu menghamtam karang. Setelah itu tersenyumlah, lihatlah bahwa senja di langit masih berwarna sama. Jingga. Bintang-bintang pun masih tertunduk diam menyaksikan kenangan-kenangan di masa depan" lanjutku.
+
Langit masih gelap, butiran-butiran bening tersenyum dari balik kaca jendela. Pun rindu, masih saja menyisakan satu lipatan kenangan terbungkus guyuran hujan. Bersama Lisa Stansfield - In All The Right Places kusadari bahwa banyak hal yang bisa memisahkan kita, tapi satu hal yang akan selalu membuat kita tetap bersama. Cinta.
+
RiaCaya

