somasi
Somasi
(Cahaya, pedang dan keabadian)
+
Aku mendengar alunan slow rock Asking Alexandria - "Moving on" dari ruang anakku yang menghentak penuh pemberontakkan sekaligus rintihan. Antara semangat dan keputus-asaan yang terkemas dalam nada-nada keseimbangan. Harmoni. Sementara kudengar kasak kusuk negriku semakin kacau diantara tiupan semilir angin yang menerobos daun-daun. Etika dan moral yang memang sangat subjektif terlihat jungkir balik di hadapan hukum. Berserakan. Benar bahwa pada akhirnya segalanya adalah nirmakna dalam wajah ketiadaan tapi dunia mesti bersiklus agar tak terhenti. Mati.
+
"Kau akan diam, menyaksikan semua orang bertarung memperebutkan kekosongan?" tanyamu.
+
"Bagaimana kita akan menidurkan kegarangan samudra ketika gelombang di kedalaman kita sendiri belum menemukan muara?. Terimalah kenyataan bahwa negri baru siuman dari nina bobok hembusan angin surga. Agama dan tuhan. Hanya dengan begitu kita bisa berdiri di bibir jurang dengan senyuman. Melihat bahwa kedalam tebing dan hamparan rerumputan di atasnya adalah sama-sama menyanyikan lagu-lagu keindahan" jawabku.
+
"Somasi" lanjutku.
+
Sementara angin masih bertiup memasuki dinding-dinding tersembunyi dalam diamku. Kusadari bahwa akulah air sekaligus api, cahaya sekaligus kegelapan, objek sekaligus sang pencari dan malam sekaligus siang. Akulah pedang keabadian yang menusuk jantungku sendiri tanpa sedikitpun tujuan.
+
RiaCaya

