tulus
Tulus
(Hanya ingin kau tahu)
+
Angin semilir berhembus dari daun-daun bambu yang menari sementara senja memerah di sudut barat cakrawala. Kemarau. Aku masih bersama alunan Republik - "Hanya ingin kau tahu", Regina belle - "You make me feel brand new", Intan RJ - "Cintaku padamu" menata ulang ribuan data di dunia pikiran. Membuat dan menyusun folder - folder maya dan menganalisa kembali skala - skala prioritas yang bertahun - tahun kubiarkan acak terbengkalai. Benar bahwa semua nilai - nilai dalam hidup terbangun dari pikiran kita sendiri. Ego. Tapi membiarkan semua hal berantakan adalah gagalnya warna - warni keindahan. Unharmoni.
+
"Mau menikah denganku?" tanyamu.
+
"Aku tidak tahu mengapa pernikahan menjadi bagian dari peradaban absurd makhluk bernama manusia. Bagiku cinta bahkan tidak butuh kesetiaan apalagi sekedar kebersamaan dalam belenggu semu pernikahan. Terlalu banyak pernikahan akhirnya hanya menyatukan tubuh - tubuh tapi bukan jiwa hingga yang terjadi adalah kekeringan. Gersang." jawabku.
+
"Kita bahkan semesta dipersatukan oleh kesamaan vibrasi. Ketulusan. Memaksakan persatuan dari jiwa -jiwa yang berlainan adalah kegaduhan dan kelelahan. Kegagalan keintiman hingga yang terjadi tak lebih dari sekedar persoalan untung - rugi. Transaksi. Lalu bagaimana mungkin kita akan bersama - sama menikmati senja di penghujung usia?" lanjutku.
+
Semburat merah masih tersisa diatas gulungan awan yang bergerak ke utara. Aku kembali mengendara angin dan berkelana pada musim - musim yang singgah di jiwa. Menyadari bahwa setiap bayangan gelap yang menghantui selalu lahir dari pikiran kita sendiri. Sesungguhnya bukan saja kelahiran tapi juga kematian yang berulang - ulang pun adalah tentang diri kita sendiri.
+
RiaCaya

