Keikhlasan

Keiklhasan
(Religius, ketakutan dan kemerdekaan)
+
Angin berhembus cukup kencang menerpa wajahku. Lampu-lampu kota terlihat seperti harapan yang tersisa diantara puing-puing keputusasaan. Cahaya. Seperti lukisan abstrak ketidakpastian langit cerah bertabur acak bintang-bintang. Beberapa pasang muda-mudi menghabiskan malam penuh canda-tawa sebelum malam pun sepi. Dari puncak bukit ini untuk kesekian kalinya kusadari bahwa betapapun seringnya kita bicara tentang keiklhasan tidak berarti kita telah mengenali lembah-lembah kematian. Sebab keikhlasan sesungguhnya tanpa suara. Hening. Menjalani keburukan seperti mensyukuri indahnya kebaikan. Tersenyum pada kedatangan dan kepergian, bencana dan keberuntungan. Tak ada lagi dualitas, tak ada lagi batas. Unlimited. Malam perlahan merangkak menuju puncak mimpi. Semangkok mie instan rebus, secangkir kopi, sebantang ciggaret dan asap yang meng-angkasa diam-diam menjadi bait-bait cerita kehidupan. Kenangan. Sementara lagu-lagu usang "Mata hati" - Iwan fals, "Mepis bayang kekasih" - Rita Effendy,  "Kiranya" - Protonema memecah kesunyian. Membumi.
+
"Pemimpin tidak tegas" katamu.
+
"Tidak ada yang bisa dibangun diatas ketakutan kecuali kekacauan. Bagaimana mungkin kita mengerti tempat dimana seharusnya berdiri ketika bayang-bayang kegelapan selalu menghantui. Meski ketakutan adalah naluri survival sapiens dari kepunahan, bukankah menyerah dan bertekuk lutut menyembahnya adalah beban kelahiran?. Ketahuilah, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah berani melihat dan menerima kenyataan. Mengakui kemunafikan meski diam-diam" jawabku.
+
"Apa yang mesti kita lakukan?" lanjutmu
+
"Memberitahu dunia bahwa hidup adalah kebebasan tapi bukan berarti kita bisa lari dari konsekuensi kebebasan itu sendiri. Pada saatnya semua akan kembali pada diri kita sendiri. Sepenuhnya" jawabku
+
Malam telah mempagi, dingin s'makin menusuk sudut-sudut hati dan bintang-bintang pun membisikan kerinduan di kejauhan. Bersama nada terakhir Naff - "Kenanglah aku" kutinggalkan tikungan terakhir tempat ini. Menyadari bahwa jika masih ada sedikit usaha melepaskan, berarti masih tersisa keterikatan disana. Dan kitapun religius sebelum waktunya. Sebab keikhlasan tidak pernah butuh sedikitpun usaha, sedikitpun alasan.
+
Bukit GP, 28 September 2020.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.

POPULER

Tuhan

Konsekuensi

Peradaban

ANDROID

Install RiaCaya pada Android
Download

BUKU


Untuk pemesanan di sini


Untuk pemesanan di sini

RCPLAYER

Simple Musik Radio TV...
RCsetup (windows)
RCplayer (Android)

DONASI



BRI
No. rek: 6906-01-002323-53-9
a/n: Pujiyanti

TRANSLATE