Once again
Once again.
(ekspektasi, realitas dan rindu)
+
Langit temaram, mendung sisa hujan semalam menggantung diatas bukit. Burung-burung kembali ke sarang menyanyikan lagu-lagu kebisuan. Suara jangkrik musim penghujan satu-satu mulai terdengar menembus kesunyian. Seperti perpisahan matahari perlahan beranjak pergi dan senja pun menghilang. Magrib. Aku masih bersama deretan huruf-huruf di keyboard Acer jadulku ketika alunan "Once Again" - Mad clown tiba-tiba menghentikan jemariku. Diam. Sekali lagi kucoba memunguti huruf dan aksara yang berserakan di kepalaku, pikiranku. Tapi sepertinya kali ini aku harus menyerah, gagal. Kata dan kalimat yang kuucap dan kutulis tiba-tiba terasa mati diujung lidahku sendiri. Tak bermakna.
+
"Aku kangen" SMS mu tiba-tiba.
+
"Dasar wanita bodoh. Bagaimana kau bisa merindukan pria egois dan tak pandai mesum sepertiku. Bukankah sudah kukatakan apa yang kau rindukan adalah bayanganmu sendiri. Pikiran. Ekspekasi yang gagal terpenuhi dalam episode hidupmu dan menjelma menjadi khayalan sekalipun kau menyangkanya sebagai ketulusan. Dan bukankah telah ribuan kali pula kukatakan bahwa cinta yang bersemayam dalam diriku telah menemukan muara di masa lalu, jadi jangan biarkan musim-musim berlalu tanpa kenangan hanya untuk menungguku. Sia-sia. Mungkin aku bisa mengajarimu puncak-puncak klimaks dan sex atau bahkan memberimu pernikahan. Tapi bukankah soal cinta adalah hal berbeda?. Ketahuilah pada saatnya cinta akan datang padamu atau siapa saja yang dikehendakinya tak peduli kita menginginkan atau menolaknya. Kemudian dialah yang akan mengajarkan pada kita nagaimana cara memperlakukan diri sendiri, sesama, hidup dan kehidupan." jawabku
+
Langit semakin gelap. Bersama Bee Gees - "I Started A Joke" sekali lagi kusadari bahwa pada buku-buku tua, puncak-puncak gunung, wihara, lonceng gereja dan menara-menara masjid seringkali kita melarikan diri dari kenyataan. Rapuh.
+
RiaCaya

