Penghujan
Penghujan
(antara rindu, senja dan hujan)
+
Syahdu. Seperti rindu yang menemukan muara pagi ini terlihat berbeda. Tanah basah dan tiba-tiba semua seakan terlahir kembali dari kegelapan dan kematian. Penuh asa. Kabut tipis memanjatkan doa-doa pada udara yang dingin. Rayab-rayab bersayap (laron) berterbangan menari diatas rumput-rumput yang menghijau. Burung-burung bernyanyi menabur harapan diantara dahan-dahan pohon jati. Deretan Embun tersenyum membiaskan mimpi-mimpi yang telah lama mati. Dibalik kabut matahari bersembunyi seakan membiarkan penghuni bumi diam menjajaki kedalamannya sendiri. Penghujan.
+
"Hujan" SMS ku,
+
Kau terdiam. Alunan "Estrella" kitaro Menyusup pada celah-celah kaca jendela. Asap yang mengepul dari batang cigarrete membawaku menyusuri jejak-jejak keangkuhan masa lalu dan mengembara di lembah-lembah sunyi ingatan. Biru. Kau adalah lembayung yang ribuan waktu pernah menemani nafas dan khayalku. Di bawah hujan kita berlari memunguti rindu. Pada rengkuhan malam kita bersama menyanyikan lagu-lagu diantara dinginnya. Bersama bintang kita tersenyum kecut memandang kenyataan. Pada laut dan ombak kita bergairah memahatkan mimpi-mimpi masa depan. Pada atas putaran roda dan aspal kita meratapi perpisahan. Dibawah pelukan senja kita menyatu dalam dekapan. Dan pada waktu kita sama - sama menyadari bahwa jarak bukanlah pembatas bagi keindahan, bagi kerinduan.
+
"Kau pria brengsek, membiarkanku terluka" katamu masih kuingat.
+
Bagimu mungkin aku adalah pengembara yang terlambat mengenali perasaan. Pria egois yang selalu menabrak etika dan aturan. Konyol. Dan aku tersenyum menyadarinya. Langit masih berkengkrama dengan kabut, sementara lirih alunan Procol Harum - "A Whiter Shade of Pale" menyambut matahari yang perlahan bersinar. Di kejauhan gugusan bukit-bukit tampak membeku dalam diam.
+
"Maaf, aku terlambat mengenali cintamu" kataku.
+
Hujan pertama, 21 Oktober 2020
+
RiaCaya

