Tuhan
Tuhan
(kesunyian, kesadaran dan usia)
+
Aku berselancar diantara nada-nada "Mirage", "Implora" - Kitaro. Udara dingin satu-satu mulai menembus kulitku yang mulai keriput ditikam usia. Lampu-lampu di kejauhan terlihat menyerupai kesunyian yang panjang. Hening. Bukit ini tidak terlalu tinggi dari permukaan laut tapi cukup untuk melihat kota yang perlahan mulai mati. Tidur. Langit mendung sementara hujan pun membatalkan dirinya mengencaniku. Kusendiri.
+
"Aku jauh lebih tua darimu" Whatsappmu.
+
"Kau pikir malam dan hujan bahkan bintang-bintang dilangit yang gelap jauh lebih tua dariku, darimu?. Tidak. Kedewasaan tak pernah ditentukan oleh tubuh-tubuh yang mulai renta tapi kesadaran. Ketahuilah sesungguhnya jauh di dasar kedalaman hati, kita tidak pernah lebih muda dari gunung dan batu-batu. Bahkan ada masanya dimana kau adalah aku" jawabku.
+
"Kita adalah matahari, bulan, gugusan bintang dan galaksi. Bahkan kita adalah semesta. Kesunyian yang saling jatuh cinta hanya untuk melewati rindu dan kesendirian abadi" lanjutku.
+
Malam mulai mem-pagi. Mendung mulai beranjak pergi dan satu persatu bintang-bintang pun tersenyum dari kejauhan. Aku menghembuskan asap terakhir dari batang cigarette dan menyatukannya dengan kabut yang mem-putih. Bersama alunan "Forever in love" - Kenny G kulangkah kaki beranjak tinggalkan tempat ini. Kusadari bahwa bukan saja fanatisme agama, tapi tuhan pun lebih banyak lahir dari kegagalan kita menemukan cermin untuk mengenali wajah sendiri.
+
Bukit GP, dini hari 19 Oktober 2020
+
RiaCaya

