Diam
Diam
(rindu, senja dan gerimis)
+
Aku menyusuri jalan yang berliku sebelum akhirnya memasuki tikungan terakhir. Berhenti. Memasuki halaman parkir disamping mushola yang sedikit sempit, beberapa langkah kemudian akupun telah menghempaskan tubuhku dibalik meja. Seperti samudra, dari atas bangunan ini terlihat hamparan dengan pulau kecil diujungnya. Air yang tenang dan dingin tanpa ombak perlahan mencipta kesunyian. Aku menghirup dalam-dalam udara yang dingin dan menghembuskannya bersama gumpalan kabut yang menyapaku. Gerimis.
+
"Kepada mendung kutitip rindu yang tak terbendung" whatsappmu
+
Kau terlahir dua dekade setelah kulihat dunia yang penuh ilusi sekaligus warna ini. Pelangi. Dunia yang memperlihatkan banyak hal menjadi lebih besar dari kenyataannya hingga seringkali kita salah lihat, salah memetakan dan salah mengerti. Kita bahkan seringkali tertipu janji-janji manisnya yang men-surga. Betapa sering kita berlari membabi buta mengejar bayangannya hingga kita pun lupa arah sendiri. Setelah sadar hari telah benar-benar malam dan kita pun terlambat mengukir sejarah. Kenangan.
+
"Aku tidak tahu apakah rindu adalah re-inkarnasi daru waktu. Bagiku bukan hanya hujan tapi gerimis yang jatuh pun adalah rindu. Pada mereka aku belajar mengerti bahwa kelahiran adalah kesendirian. Kesunyian. Hingga aku pun mengerti mengapa kita manusia begitu menyukai cahaya. Jawaban dari setiap pertanyaan dan
kegelapan di dalam." jawabku
+
Gerimis masih menyanyikan lagu-lagu bisu. Udara masih kurasakan sama dan senja pun masih selalu menyisakan warna yang sama. Bersama alunan Payung Teduh - "Perempuan dalam pelukan" selepas magrib kutinggalkan tempat ini. Dalam diam.
+
RM Sari Raras Wonogiri, 27 November 2020
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian


