Gila
Gila
(senja, kebebasan dan senyuman)
+
"Aku mulai memahami karaktermu" Whatsappmu.
+
Bagaimana kita akan memahami apa yang ada di luar diri ketika kita masih ragu tentang kedalaman sendiri. Bagiku kefahaman hanya milik orang-orang yang telah berhenti bertanya, berhenti memetakan pola-pola yang terlihat acak sebab sesungguhnya apa yang kita sebut sebagai ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. Realitas. Malam telah mem-pagi, rembulan tersenyum memancarkan cahaya dipelukan mendung. Angin terdiam menyanyikan lagu-lagu keabadian tanpa suara. Sementara beberapa bintang membisikkan kenangan dari balik kaca jendela. Aku menyusuri jejak-jejak sunyi senja yang t'lah pergi. Beberapa siklus. Menemukan wajah sendunya diantara barisan huruf-huruf dan menghirup sisa-sisa aroma wangi tubuh yang ditinggalkannya. Men-jingga.
+
"Koclok (baca: gila)" lanjutmu.
+
Kali ini aku tersenyum. Tiga purnama kita bertemu dan kau wanita separo baya yang tanpa sengaja mengingatkanku pada senyum yang selalu meneduhkanku. Senyum yang bertahun-tahun tak pernah lelah memaafkan kebodohan dan keegoisanku. Di masa lalu.
+
"Sepakat. Mungkin aku sedikit gila sebab terlalu sering berpikir tentang hal-hal yang jarang dipikirkan orang lain. Aku bahkan sering mengabaikan hatiku sendiri hanya untuk sekedar tahu berapa dalam aku bisa membohongi diriku sendiri. Berulang kali aku membiarkan diriku disakiti, ditinggalkan, bahkan ditipu hanya untuk menjajaki kesanggupanku dalam menghadapi dan menerima kenyataan." jawabku
+
Malam semakin mem-pagi dan dingin pun mulai membacok tulang. Aku menyusuri nada-nada "Still thinking of you", sebuah sountrack film lawas "Painter of the wind", kusadari bahwa hidup adalah kebebasan. Kita bebas melakukan apa saja tapi kita tidak pernah bisa bebas dari konskuensi kebebasan itu sendiri. Sepenuhnya.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian


