Jodoh
Jodoh
(Gerimis, vibrasi dan rindu)
+
"Jodoh itu cermin DIRI atau perbedaan yang saling melengkapi?" tanyamu.
+
Gerimis masih saja memelukku dan spoi angin yang menerobos tirai jendela membawa nuansa dingin. Rindu. Bagiku gerimis bukan saja penyimpan kenangan tapi wajah dan bahasa kehidupan bagi pecinta kesendirian. Pengembara. Bertahun lembah-lembah pengetahuan kudaki, tebing-tebing pikiran dan kitab-kitab tua kususuri hingga aku pun nyaris berhenti menjawab pertanyaan. Ketidaktahuan. Benar bahwa kebodohan adalah beban peradaban tapi tanpa keterbelakangan bagaimana kita bisa mencandra dan berharap masa depan?
+
"Keduanya. Cermin diri, sebab sebuah hubungan tanpa kesamaan vibrasi hanya akan melahirkan kontradiksi, perang dan perpisahan. Cerai. Sementara tanpa perbedaan-perbedaan dan sedikit benturan bagaimana kita akan belajar saling memahami. Ketahuilah, hanya yang pernah kacau, acak dan tak teratur yang akan bisa tertata kembali sebagai keseimbangan. Harmoni. Maka salah, buruk, rugi, kecewa dan sakit hanyalah jalan-jalan bagi kita untuk lebih memahami diri sendiri" jawabku.
+
"Kau bisa melukis hujan?" lanjutku
+
Semenit kemudian barisan abjad-abjad mulai terlihat berjejer indah dari Whatsappmu. Kata dan kalimat yang lahir dari akumulasi rasa sakit dan amarah masa lalumu diam-diam mulai menemukan bentuknya. Muara. Sementara alunan nada-nada Fryda - "Rindu" dari Acer jadulku perlahan membisikkan sedikit mimpi-mimpi dan harapan. Kapan kita bertemu melepas rindu?
+
November rain 2020
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


