1001 jalan
1001 jalan
(penolakan, derita dan rindu)
+
Hiruk pikuk pilkada tiba-tiba kembali sunyi dan pesta pun usai. Seperti dugaanku para badut kembali memenangkan pertunjukan. Manusia kembali pulang dan terasing dalam kesendiriannya, tak ada lagi kesamaan-kesamaan yang perlu diperjuangkan. Tak ada lagi kebersamaan yang didengungkan dan satu persatu janji-janji pun mulai terlupakan. Para ular kembali membelitkan cengkramannya yang menghimpit dan kaum marginal tetap tertatih-tatih berjuang menghadapi keterbatasannya. Sendirian. Mereka bahkan tidak pernah mengerti bahwa demokrasi yang disemai di ladang kebodohan hanyalah legalisasi bagi kekuasaan. Keegoisan. Sementara aku terus melangkah diantara lubang-lubang kemunafikan, meniti jalan-jalan berliku diantara jejak.jejak pengkhianatan. Menyadari bahwa setelah ribuan sikus bumi, ternyata rindu ini baru setengah kupahami.
+
"Adakah penolakan yang tak menyakitkan?" tanyamu.
+
Kau remaja separo usiaku. Tapi kita telah melewati beberapa purnama dan mengabarkan dinginnya malam pada bintang-bintang. Bersama. Usia memang bukan barometer bagi kedewasaan apalagi kematangan. Hingga aku seringkali merasa bahwa usia kita lebih tua dari matahari dan bulan, dari bintang gemintang. Sebab sesungguhnya kita dan semua terlahir dari hal yang sama. Keabadian.
+
"Penolakan terhadap realitas bukan saja melahirkan rasa sakit, tapi dari sanalah tunas penderitaan itu mulai tumbuh. Hanya saja, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membuat orang lain menderita, pun bahagia. Kita sendirilah yang mengijinkan hati untuk terluka. Kita juga yang menyediakan ruang bagi hati untuk mengenali kebahagiaaanya sendiri. Bukan siapapun" jawabku.
+
Malam semakin sunyi. Para badut menyantap jamuan terakhir, menghapus make-up dari wajah dan mengganti senyumnya yang palsu. Sementara aku masih disini menjalani takdir yang kuciptakan sendiri. Bersama alunan lagu tua "Bulan sabit" - Broery Marantika kusadari bahwa selalu ada 1001 jalan untuk menjalani apa yang kita namai kebaikan, sebab hanya dengan demikian dunia akan menemukan keseimbangannya sendiri.
+
Pilkada 2020
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


