Free will
Free will
(pikiran, realitas dan Parallel world)
+
"Aku mendengar mereka bicara, Nyata" Whatsappmu semalam kubaca ulang.
+
Kabut sisa-sisa gerimis semalam masih menyembunyikan matahari. Dingin. Bersama alunan Angeline Quinto kumulai hari ini dengan sebatang cigarette dan secangkir teh. Wanita cantik yang meng-kolaborasi-kan dua lagu dalam satu aransement musik, "Knife" dan "She's gone". seperti perenang tangguh yang menaklukkan ombak, nada-nada mayor itu disebranginya dengan lincah. Indah. Asap menyatu bersama kabut dan laksana doa-doa terbang meng-angkasa, sementara jauh di kedalaman yang sunyi kudapati bahwa rindu ini masih sedikit tersisa.
+
"Secara teory setidaknya ada sembilan dimensi pasca Big bang. Multi universes. Aku tidak tahu apakah pikiranmu melampaui dimensi ke-empat dan terhubung ke parallel world. Tanpa sangaja. Atau kau mencipta bayangan realitas dari pikiranmu sendiri. Sebab apa yang kita sebut realitas sesungguhnya lahir dari pikiran. So. Apapun yang selalu kita pikirkan pada akhirnya akan menjadi kenyataan yang mesti kita jalani. Lihatlah, komputer, handphone, satelit dan semua peradabadan ini selalu lahir dari pikiran. Berabad-abad. Pun apa yang kita namai kesedihan, ketakutan dan keraguan adalah derivative dari pikiran" jawabku.
+
"Seperti cinta, pikiran lebih rumit dari sekedar yang bisa kita bayangkan. Apakah pikiran itu exist?. Jika pikiran adalah aliran listrik dalam neuron, dia adalah elektron. Dan Setiap elektron mempunyai massa, sementara segala sesuatu yang mempunyai massa adalah materi. Exist. Hanya saja aku tidak yakin apakah segala sesuatu yang kita sebut nyata sesungguhnya benar-benar exist, sebab ketika partikel bertemu dengan anti metter, keduanya tiba-tiba menghilang. Musnah." lanjutku.
+
Kabut masih menyelimuti langit kotaku. Daun-daun, rumput dan embun masih menyanyikan lagu-lagu bisu. Di bawah sisa-sisa gerimis yang dingin kusadari bahwa se-rumit apapun hitungan matematika dan logika adalah kepastian, Hingga siapapun yang ingin merubah dunia, sesungguhnya hanya menjalani algoritma semesta. There is no free will.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


