Vulgar
Vulgar
(Seni, kelahiran dan tuhan)
+
"Isi pulsa bang" Messengermu.
+
Sedetik kemudian kau pun mengirimkan photo tanpa sehelai benang, busana. Selly namamu dan belum genap 24 jam kita bertemu. Bagiku seni dan keindahan bukanlah bahasa vulgar yang memperlihatkan setiap detail dari persoalan tapi ketika tujuan adalah abstrak, bias dan penuh warna. Apa-lah arti kelahiran jika semua hal telah ter-dekripsikan bahkan sebelum terjadi sebagai kenyataan kecuali kehampaan. Pun tuhan, ribuan waktu telah kuhabiskan bersama buku-buku tua mencarinya namun setiap kutemukan jawaban justru selalu melahirkan beragam pertanyaan. Tak terbatas. Hingga kusadari bahwa sesungguhnya pertanyaan dan jawaban itu adalah diriku sendiri. Kesadaran.
+
Pun rindu, bagiku dia bukanlah bunga-bunga yang mekar dalam pertemuan atau desah yang memburu dan menggeliyat dibawah cahaya rembulan ketika kita bertarung melawan dinginnya malam dalam hangatnya pelukan. Tapi ketika jauhnya jarak dan waktu setipis ari dalam kepingan ingatan. Lagu-lagu bisu yang sukarela kita nyanyikan meski hati semakin sunyi tertunduk menyaksikan nyeri yang sengaja atau tidak telah kita ciptakan sendiri. Hingga nikmat dan derita tak lagi bisa dibagi. Membeku.
+
"Kau laki-laki ber-akun wanita?" tanyaku
+
Langit masih gerimis ketika tiba-tiba kulihat akunmu menghilang. Blocked. Bersama alunan Lionel_Richie - "Stuck On You" untuk sekian kali kuraba jantungku sendiri. Menyadari bahwa kedalaman tidak ditentukan oleh berapa banyak putaran waktu yang telah kita arungi tapi seberapa dalam kita menghayati jalan-jalan yang pernah kita alami.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian


