Pelukan
Pelukan.
(Ciuman, usia dan senja)
#late_post
+
Aku melukis senja dan mengukir namamu diantara batu-batu tebing yang menjulang tinggi. Laksana wajah perpisahan langit temaram berkabut. Jalanan berliku dan menanjak diantara pohon-pohon pinus. Seperti aliran takdir yang tak pernah benar-benar kumengerti roda terus berputar laksana harapan dan keputusasaan yang datang silih berganti. Jalan semakin menanjak dan berkelok melewati tebing yang dalam. Terlihat jauh dibawah sana perumahan berjejer diantara hamparan sawah yang menghijau. Kita berhenti. Aku menyusuri wajahmu dan perlahan menabur mimpi-mimpi diatas kabut, diatas senyummu yang sederhana. Kita berpelukan. Dan tiba-tiba daun-daun pinus terasa sunyi, burung - burung pun berhenti bernyanyi. Aku tenggelam dalam samudra keheningan. Dipelukanmu kutemukan kembali separoh diriku yang hilang ditelan kemarahan dan keegoisan masa lalu. Bermuara.
+
"Kita melangkah bersama" katamu.
+
Untuk sekian kali kujelajahi wajahmu dan mengeja sisa-sisa keraguan. Kau 22 tahun sementara aku pria tua 44 tahun yang bahkan nyaris setengah abad menatap matahari. Bagaimana cara kita akan menterjemahkan dinginnya malam dan menikmati cahaya senja bersama di masa depan?. Aku bahkan gagal memahami bagaimana kau akan menghadapi sepi ketika usia memaksaku pergi lebih dulu diatas pangkuan dan pelukanmu. Aku tidak tahu. Aku hanya mengerti bahwa di masa lalu mungkin kita telah bersama untuk waktu yang lama hingga tak kutemukan sedikit pun keterasingan pada tatapan pertama matamu.
+
"Sedikitpun tak ada yang bisa kujanjikan, aku hanya akan menjadi diriku." jawabku
+
Senja merah tembaga tersenyum di balik cakrawala, sementara roda terus berputar melewati tanjakan terakhir. Kau menggenggam tanganku. Sejurus kemudian aku pun melumat hangat bibirmu dan menghapus semua keraguan yang tersisa. Sepenuhnya. Kusadari dihadapan samudra ketulusanmu birahiku pun tiba-tiba mati. Aku menyerah dan sekali lagi tenggelam ke dasar keheningan untuk terakhir kalinya melepas kesendirian. Kesunyian. Bersama detak jantung dan halus nafasmu menyanyikan lagu-lagu keabadian.
+
"Meski tak tahu berapa waktu tersisa, berbagilah denganku" bisikmu.
+
Ponorogo, 10 February 2021
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian


