Pernikahan
Pernikahan
(sex, malam dan jiwa-jiwa)
+
02:30. Aku masih bersama Radio Love Live New York. Malam telah menemukan dinginnya yang men-tulang. Bagiku malam adalah sukma kehidupan yang selalu mengajarkan bahwa kesendirian adalah jalan-jalan memahami kelahiran. Bahwa apa yang selalu kita rindui adalah wujud dari kedalaman kita sendiri. Sementara asap cigarette membumbung dan menyatu dengan sisa-sisa gerimis melahirkan fatamorgana yang abstrak. Tak terdefinisi.
+
"Kita menikah" katamu.
+
Untuk sekian kalinya kusadari bahwa pernikahan adalah salah satu peradaban usang yang lahir sejak jaman batu. Sejak manusia mulai ber-gelut dengan angan-angan dan pikirannya sendiri tentang pernikahan, bangsa-bangsa dan masa depan. Atas nama keharmonisan dan keadilan manusia membangun peradaban dengan angkuh yang akhirnya justru melahirkan konflik dan peperangan. Nasionalisme dan ribuan isme-isme agama yang justru memisahkan dan mencerai-beraikan manusia itu sendiri. Error.
+
"Bukankah cinta dan sex adalah dua hal berbeda. Lalu mengapa begitu penting legalisasi sebuah hubungan dalam bangunan rumah tua benama pernikahan?. Bukankah sejak huruf-huruf belum tercipta pernikahan bahkan tak pernah berhasil menyatukan jiwa-jiwa?. Dirimu sendiri yang lebih mengerti apakah kau benar- benar mencintaiku atau aku hanya pelarian dari sepinya malam-malammu." jawabku.
+
"Pada saatnya sex mungkin akan menemukan titik jenuh tapi tidak dengan cinta sebab dia adalah roh abadi bagi jiwa-jiwa para pecinta. Seperti rindu, cinta akan membuat sex terasa berbeda, ia tidak lagi memburu dengan hasrat-hasrat tersembunyi dan ambisi tapi mengalir dan menyatu dengan nafas kehidupan. Pasrah. Ketahuilah, cinta tidak saja mampu terbang diantara jauhnya jarak ruang dan waktu tapi lebih dari sekedar mampu menari diantara dalamnya kebencian, kemarahan dan luka reinkarnasi masa lalu. Tersenyum" lanjutku.
+
Malam terus mempagi. Alunan "You and I" - Scorpion, "One OF Us" - Joan Osborne mengalun diantara kode-kode binary yang terkirim melalui viber optick dari kejauhan New York. Sekali lagi kusadari bahwa jarak tidak ditentukan oleh berapapun hitungan angka-angka mistar tapi oleh keringnya ingatan.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


