Boom

Boom
(Negriku, ilusi dan nurani)
+
Aku berjalan diatas genangan air sisa-sisa hujan semalam. Menikmati belaian kabut yang dingin dalam aliran darahku. Menyadari betapa seringnya pikiran mempersulit dirinya sendiri ketika mimpi-mimpi tak terkendali. Dan kita pun gagal meng-identifikasi kenyataan hingga mengira bahwa ilusi surga neraka adalah kenyataan. Realitas. Tanpa sadar terjebak dalam kubangan amarah, luka, dan dendam. BOOM.
+
"Bagaimana om bisa tahu maksudku bahkan sebelum aku mengatakannya?" tanyamu.
+
Sementara negeriku semakin gaduh. Orang-orang berteriak nanar dan saling baku hantam hanya karena perbedaan isi kepala. Isme. Beberapa orang tertawa senang diatas penderitaan orang lain. Sengaja. Tempat-tempat sujud masjid, gereja, wihara dan pura berubah menjadi mimbar untuk saling mencaci dan membenci. Beberapa yang lain bersikeras memelihara kebodohan massal hanya untuk bisa menguasai. Mati-matian. Hubungan pertemanan, persaudaraan bahkan pernikahan tak lebih dari sekedar transaksi untung rugi. Keegoisan. Aku bahkan mulai bertanya benarkah manusia layak untuk disebut lebih mulia dan beradab dari saudara kita simpanse, ular dan batu-batu.
+
"Kadang untuk bisa mengerti sesuatu kita tidak butuh bertumpuk-tumpuk buku tua dan teory melainkan sedikit kepekaan. Nurani." jawabku.
+
Jalan-jalan masih basah, suara-suara sumbang masih bergaung di layar TV-TV, Facebook, Whatsapp, pasar-pasar, dan gang-gang sempit yang bau. Kusadari bahwa pada akhirnya hanya cinta yang bisa menyeberangi samudra amarah, luka dan dendam. Hingga apapun yang kita bicarakan adalah jalan bagi keberlangsungan masa depan. Keseimbangan.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.

POPULER

Tuhan

Konsekuensi

Peradaban

ANDROID

Install RiaCaya pada Android
Download

BUKU


Untuk pemesanan di sini


Untuk pemesanan di sini

RCPLAYER

Simple Musik Radio TV...
RCsetup (windows)
RCplayer (Android)

DONASI



BRI
No. rek: 6906-01-002323-53-9
a/n: Pujiyanti

TRANSLATE