Sajak terakhir seorang suami. VI
Sajak terakhir seorang suami
(Senja berganti)
+
Pagi. Kabut meyelimuti langit kotaku, gerimis. Aku menyusuri jejak senyum yang terlambat kau tinggalkan. Biru. Meski terlihat serampangan padamu pernah kupersembahkan dinginnya malam tanpa sedikitpun keraguan. Dan kita pun mendaki puncak-puncak hasrat memaknai secangkir anggur diantara desah yang manja. Menuruni lembah-lembah rindu dan menari telanjang di belantara sunyi pencarian. Penyatuan. Hingga kita pun menyerah diujung nafas-nafas yang memburu, bersama. Padamu meski sederhana pernah kutabur mimpi-mimpi diantara keangkuhan waktu. Padamu pernah kucandra jarak matahari dan bulan dalam diam. Sepenuh hati.
+
"Aku berhenti" katamu di penghujung senja.
+
Ribuan waktu ku-tantang terik matahari, kuterjang dinginnya kemarau dan kutakhlukkan badai kemarahan meski diam-diam. Kupasung wajah pengkhianatan di hadapan malam dan menyerahkannya pada bintang-bintang. Sukarela. Kusadari bahwa tidak akan pernah ada luka kecuali atas ijin kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan kebahagian atau kesedihan pada orang lain hingga siapapun bertanggung jawab penuh atas perasaannya sendiri. Tanpa kecuali. Sebab kebahagiaan bukanlah puncak-puncak pelarian atau pun diujung-ujung pencarian melainkan kesadaran yang mengenali wajahnya sendiri.
+
"Pergilah, kejarlah bayang-bayang keegoisan yang kau sebut pelangi, mimpi. Hingga pada saatnya akan kau pahami bahwa semua hal yang kau tolak dan pungkiri adalah cerminan wajahmu sendiri. Wajahku" jawabku.
+
Kabut perlahan menipis pergi, matahari merangkak dan sinarnya menghangat diujung kulitku. Satu-satu. Bersama sisa-sisa dingin kusadari bahwa berapapun banyak pagi dan senja kulalui, ia tak pernah benar-benar berbeda. Sebab sejak waktu yang telah lalu cinta itu bersemayam dihatiku sendiri. Esa.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


