Dejavu

Dejavu
(Waktu, rasa dan senja)
+
Aku mendaki jalanan yang basah dan berliku. Menyelam dalam samudra dingin yang berhembus dari daun-daun pinus. Satu tikungan telah berlalu dan roda pun meluncur diantara terjalnya batu-batu yang licin. Hujan baru saja mengguyur kota ini. Sebuah harapan sederhana bagi para petani di era rekayasa global wabah Covid-19. Langit berawan, hamparan sawah berderet laksana permadani dalam janji-janji surga. Hijau. Sementara kabut tipis membumbung dari semak-semak seakan memberitahuku bahwa dunia empiris bukanlah satu-satunya jawaban bagi setiap persoalan. Kekecewaan, amarah, rasa sakit, kesenangan, kesedihan dan kebahagian. Airmata. Pertanyaan usang sapiens sejak berabad-abad lamanya tentang "mengapa aku ada?". Eksistensi. Dan meski beberapa buku tua telah memberi jawaban namun bagiku tetap saja tak ada kepastian. Absurd. Seperti cinta yang tak terdefinisikan oleh kata-kata akhirnya aku pun berhenti untuk bertanya. Diam. Hingga siklus waktu seakan berhenti dan tiba-tiba aku pun mulai meragukan keberadaanku sendiri. Eksistensi semu.
+
"Dah lama menunggu?" tanyamu membuka pintu
+
Aku tidak tahu. Apakah rasa ini telah berusia lebih tua dari kelahiranku sendiri hingga senyum dan tatapan matamu seakan telah kukenal jauh sebelum kita bertemu. Jutaan waktu. Dejavu atau benar kata Stephen Hawking dalam kitab "A Smooth Exit from Eternal Inflation" bahwa keberadaan dunia ini adalah paralel. Multi universe. Hingga di balik ruang dan waktu yang sekarang kita mungkin saja telah lama bersama dalam satu nafas dan pelukan. Melukis senja.
+
"22 tahun" batinku.
+
Sejurus kita terdiam. Waktu melesat menghapus sisa-sisa luka yang pernah singgah di masa lalu. Keegoisan yang sering terlambat kita mengerti dan sadari. Seperti sebait lagu tanpa nada kita bercengkrama saling mengerti tanpa sebaris kata-kata. Hening. Sementara senja terlihat menguning dari balik mendung, tanah tetap merah basah diantara jingga yang perlahan menghilang. Aku menggenggam tanganmu hingga menjelang magrib kulepas halus tanganmu. Kutinggalkan kota ini bersama alunan "You are" - Dolly Parton. "Send me angel" - Scorpion. Kusadari bahwa pada akhirnya hanya cinta yang selalu mampu membebaskan dirinya dari arogansi ilusi waktu. Sepenuhnya.
+
Ponorogo, awal Ramadhan 2021
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian

POPULER

Tuhan

Konsekuensi

Peradaban

ANDROID

Install RiaCaya pada Android
Download

BUKU


Untuk pemesanan di sini


Untuk pemesanan di sini

RCPLAYER

Simple Musik Radio TV...
RCsetup (windows)
RCplayer (Android)

DONASI



BRI
No. rek: 6906-01-002323-53-9
a/n: Pujiyanti

TRANSLATE