Selfish gen
Selfish gen
(covid19, keadilan dan kemanusiaan)
+
Terik membakar wajahku. Seperti rasa yang tertunda awan putih menggantung di cakrawala barat. Kemarau. Sementara wabah rekayasa covid19 membisu tanpa gaung di sudut-sudut kota. Laksana harapan orang-orang beterbaran tanpa secuil pun masker kesehatan. Sepertiku. Mungkin bosan adalah penyebab ketidakpedulian atau keterbatasan, kelaparan dan kemiskinan lebih menakutkan dari apa yang kita sebut sebagai sakit dan kematian. I don't know.
+
"Aku adalah gambaran nyata dari keegoisan" suaramu.
+
"It's nature. Bukankah jauh sebelum kelahiran kita adalah selfish gene. Naluri survival dan penolakan dari kepunahan warisan masa lalu. Lihatlah, bagaimana pun manusia membangun ide sosialis dan pemerataan selalu tumbang di perkosa zaman. Sebab kebersamaan dan persatuan bukanlah algoritma dasar dari hukum alam. Law of nature" jawabku.
+
"Bagaimana dengan keadilan?" lanjutmu.
+
"Keadilan hanyalah pelarian, kata-kata penghibur bagi orang-orang yang gagal menerima kenyataan dan tersisih di pinggir peradaban. Ketahuilah, sesungguhnya keadilan tidak pernah benar-benar eksis kecuali hanya dalam pikiran. Dunia ide. Bahkan kemanusian hanyalah gagasan dan ilusi yang tak pernah menemukan bentuknya sendiri setidaknya sampai saat ini. Kata-kata absurd sebab tanpa parameter yang jelas selama berabad-abad." jawabku.
+
Awan masih putih menggantung. Angin bertiup semilir sedikit menepis wajah terik matahari. Bersama alunan "When I need you" - Leo Sayer & Rod Stewart kusadari bahwa pada akhirnya hanya cinta yang mampu memperlihatkan keindahan tanpa sedikit pun penghakiman. Kenyataan.
+
Baturetno, April 27 2021
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


