Pergi
Pergi
(dualitas, vibrasi dan waktu)
+
"Aku ingin berpisah" katamu 111 hari yang lalu.
+
"Pergilah. Seperti samudra, pada saatnya semua hal akan kembali ke tempatnya masing-masing. Muara. Menemukan vibrasi dan habitatnya sendiri-sendiri. Kita tidak pernah bisa menyatukan hal-hal yang sudah semestinya terpisah. Lihatlah, api dan air, siang dan malam, benar dan salah, logika dan iman, keduanya akan saling menegasikan satu sama lain. Selamanya. Sebab persatuan yang dipaksakan hanya akan melahirkan ledakan yang membakar diri kita sendiri. Berkeping-keping. Waktu bahkan tak pernah mengijinkan kita membunuh dualitas pikiran sepenuhnya kecuali kita telah benar-benar berhenti. Mati. Menyadari bahwa apapun yang membuatmu menderita adalah hal sama yang akan membuatmu bahagia. Bahwa sesungguhnya apapun yang kau sebut mereka adalah kita. Dan aku adalah kau." jawabku.
+
"Ketahuilah, siapapun yang telah memutuskan untuk pergi tidak akan bisa kembali sepenuhnya. Sebab sekalipun waktu hanya duduk termangu menyaksikan kehidupan dia tak pernah sekali saja berjalan mundur." lanjutku.
+
Dingin. Senja masih bersenggama dengan sisa-sisa gerimis di balik daun-daun. Aku kembali menyusuri jejak-jejak jingga dalam alunan nada-nada "Viva-Forever" - Spice Girl, "Home" - The Grus, "Ikebana" - StrangeZero, "Coral Reef" - Psychadelik, untuk sekian kalinya menyadari bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa membuat orang lain menderita apalagi bahagia. Sebab sesungguhnya hidup ini hanyalah tentang diri kita sendiri. Sepenuhnya.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian


