Belenggu
Belenggu
(Komitmen, tujuan dan keikhlasan)
+
Kali ini aku tidak menemukan kebebasan di balik tawa, senyummu. Tapi segumpal bekas luka yang menganga diantara kepulan asap cigarette. Bagimu mungkin aku adalah pria egois sekaligus terapuh dalam episode hidupmu. Meski baru dua hari kita bertemu tapi sepertinya itu cukup bagiku untuk memahami sisa-sisa gejolak dan bara yang membakarmu. Ganasnya badai dan gelombang yang memporak-porakan mimpimu. Di masa lalu.
+
"Langgar komitmenmu sendiri" katamu,
+
Kau perempuan gila yang menghentikan langkah ketika cahaya nyaris membebaskanmu dari ketakutan sepenuhnya. Bertahan pada zona nyaman sebab logika dan pikiran terjebak oleh dualitas. Baik buruk, untung rugi, surga neraka. Tempat banyak orang tanpa sadar terseret melakukan penghakiman.
+
"Aku lebih dari sekedar tahu bahwa komitmen adalah belenggu terakhir bagi setiap perjalanan, pencarian. Dia tak lebih dari sekedar keegoisan yang bersembunyi di balik wajah-wajah yang kita sebut kebaikan. Kesucian. Pada saatnya kita harus meninggalkannya tapi bukan lagi demi sebuah tujuan tapi kebebasan itu sendiri. Tidak lebih." jawabku.
+
"Ketahuilah, apapun yang masih mempunyai tujuan berarti dia belum benar-benar sampai di puncak pendakian. Sebab sesungguhnya hidup tidak pernah benar-benar mempunyai tujuan. Dia hanyalah wajah dan aliran algoritma sungai keabadian," lanjutku.
+
Langit masih gerimis, Satu per satu lagu-lagu usang kita nyanyikan. Phil Collins - 'Do You Remember". Julio Iglesias - "When I Need You". Bee Gees - "I Started A Joke". Kusadari bahwa kebaikan, pahala, surga bahkan tuhan adalah belenggu bagi keikhlasan dan kebebasan. Cinta.
+
RiaCaya
Bersama menuju keabadian.


